PNWP & KNPB

TANAH PAPUA

TPNPB - OPM

POLHUKAM

NASIONAL & INTERNASIONAL

TANAH PAPUA

Masyarakat Paniai Jadikan Kali Enagone Tempat Pembuangan Sampah
Tampak Kali dipenuhi sampah. (Foto: ist)
PANIAI,SUARAPAPUA.com --- Membuang sampah disembarang tempat kini menjadi persoalan utama di Ibukota Kabupaten Paniai, Enarotali.
Masyarakat Paniai, khususnya yang mendiami kota Enarotali, dinilai, tanpa merasa bersalah dengan seenaknya selalu membuang sampah disembarang tempat, terlebih di kali enagone.

Hal itu diungkapkan Semuel Yogi, salah satu tokoh intelektual asal Paniai, kepada suarapapua.com, pagi (16/1/2016) ini, di Kompas Lama.

Kali kecil yang airnya mengalir membelah jantung kota enarotali ini, Semuel katakan, kini telah berubah menjadi tempat pusat pembuangan sampah oleh seantero masyarakat Paniai.

"Saat masih kecamatan dulu, kami jadikan kali ini tempat mandi, cuci baju dan serta keperluan lainnya. Tapi sekarang setelah adanya kabupaten, kali ini telah berubah menjadi tempat orang buang sampah," kata dia.

Menurut Semuel, kebanyakan masyarakat memilih membuang sampah di kali enagone dikarenakan kurangnya penyediaan tempat sampah.

"Tempat sampah harus banyak. Semua titik dimana disitu terdapat lebih dari satu rumah harus disediakan tempat sampah. jangan hanya ditempat-tempa tertentu saja. Karena, menurut saya, jarak jauh dan dekat itu juga sangat berpengaruh," tutur dia.

Semuel menambahkan, akibatnya kini air kali enagone telah berubah warna maupun baunya. "lihat sekarang, akibat buang sampah dalam kali enagone, warnanya sudah tak bening dan baunya pun tak sedap lagi untuk dicium," bebernya.

Jika kebiasaan buruk ini tak segera dicegah, menurut dia, dampaknya akan membias sampai ke air danau paniai. "Muara dari kali ini kan di danau sana, tetap air danau akan ikut tercemar. Kalau sudah tercemar, dengan berjalannya waktu tanpa ada upaya-upaya baik tuk dicegah, semua makhluk hidup dalam danau akan mati habis," bebernya lagi.

Sehingga untuk menghindari, dia menuturkan, ada dua hal penting yang harus dilakukan oleh seantero masyarakat Paniai tanpa terkecuali.

Untuk mencegah, kata dia, pertama, semua orang tanpa terkecuali harus punya kesadaran diri dalam membuang sampah. saya yakin kalau ada kesadaran diri, kita akan tahu sampah itu harus dibuang kemana.

Yang kedua, lanjut dia, harus ada terobosan-terobosan baru yang dibuat oleh pihak pemerintah daerah baik legislatif maupun yudikatif.

"Tapi bukan hanya sebatas buat kebijakan atau intruksi, harus dilanjutkan dengan kerja nyata di lapangan. Jangan terus membodohi rakyat kecil dengan tulisan-tulisan yang dipajang lewat spanduk, " beber  Samuel.

Editor: Oktovianus Pogau

STEVANUS YOGI

http://suarapapua.com/mobile/read/2016/01/16/3102/masyarakat-paniai-jadikan-kali-enagone-tempat-pembuangan-sampah#.Vpn3bm_FrBU.twitter
Yogyakarta (09/04/2014) - Demi meminimalisir membludaknya massa kelompok GOLPUT dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) Indonesia tahun 2014, dan dengan mengingat banyaknya jumlah Mahasiswa dari luar Daerah Yogyakarta yang sedang menimbah Ilmu di kota Yogyakarta, maka KPU Daerah Istimewa Yogyakarta, telah memberikan kebebasan dan kekhususan kepada seluruh Mahasiswa rantau, termaksud Mahasiswa Papua yang berdomisili di DIY untuk untuk ikut memberikan suaranya dalam Pemilihan Legislatif (Pileg), yang digelar serentak pada tanggal 09-04-2014 di Yogyakarta, tanpa harus pulang kedaerahnya masing-masing. 
Namun tampaknya kebijakan yang diberikan oleh KPU DIY tidak terlalu mendapatkan perhatian dan respon positif dari Mahasiswa rantau yang ada di Yogyakarta, terlebih khusus oleh Mahasiswa Papua. Dari pantauan kami ke beberapa Tempat Pemungutan Suara (TPS) yang daerah tersebut terdapat banyak mahasiswa rantaunya, terlihat jelas bahwa para mahasiswa rantau yang ada di daerah-daerah tersebut memilih untuk tidak memberikan suara mereka, dan lebih memilih untuk mengisi waktu liburnya dengan aktivitas lainnya yang menurut mereka lebih bermanfaat dalam mengikat hubungan persaudaraan dan kekompakan antara mahasiswa sesama daerahnya masing-masing.
Juan, Nona, Jefry dan beberapa teman mereka yang berasal dari satu daerah asal (Maluku) yang kami temui di daerah Babarsari, ketika kami tanyakan terkait ikut memilih atau tidak, mereka menuturkan bahwa "kami tidak ingin memilih, kami memilih untuk Golput saja, sebab memilih atau tidak memilih itu sama saja, toh nanti yang terpilih kan yang untung, bukan kami, jadi kami semua dari daerah yang sama, lebih memilih untuk berkumpul bersama teman-teman kami yang satu daerah untuk mempererat hubungan kekeluargaan kami" tutur mereka.
Hal senada dengan yang disampaikan mahasiswa asal Maluku tadi pun diutarakan oleh beberapa mahasiswa asal Flores, Makasar, Kalimantan, Sumatra dan Aceh. Para mahasiswa rantau asal beberapa daerah yang ada di Yogyakarta ini mengungkapkan bahwa "meskipun KPU DIY, telah memberikan kami kebebasan untuk memilih di Yogyakarta, namun untuk apa kami harus memilih mereka (Caleg) yang berasal dari Yogyakarta ? ketika kami memberikan suara untuk mereka, belum tentu mereka akan memperhatikan kami, apalagi daerah asal kami. Jadi kami lebih baik tidak memilih dan menurut kami PEMILU itu adalah Pestanya para elit-elit saja, bukanlah pesta milik rakyat, jadi lebih baik tidak usah memilih saja". tutur mahasiswa rantau dari beberapa daerah ini.
Hal senada namun lebih tegas dan lebih politis, disampaikan oleh mahasiswa Papua yang sedang menimbah ilmu di Yogyakarta, salah satunya adalah Susan M, salah satu mahasiswi asli Papua yang sedang menimbah ilmu di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta ini, ketika ditemui di sela-sela pergelaran turnamen Volly antara Ikatan Mahasiswa Papua se- DIY, menyebutkan bahwa "kami orang Papua bukanlah bagian dari Indonesia, jadi untuk apa kami harus terlibat dalam Pemilihan Legislastif Negara Kolonial Ini !", tegas Susan M.
Ditempat yang sama, Dhino U, salah seorang mahasiswa Papua lainnya ketika kami tanyakan, diapun mengatakan bahwa "Kami Bangsa Papua sudah secara Jelas, menyatakan sikap bahwa kami akan BOIKOT Pemilu Kolonial Indonesia, maka untuk apa kami pergi jual diri kami di TPS ! kami mahasiswa Papua yang ada di Yogyakarta dan beberapa daerah lain di luar Papua adalah perpanjangan tangan dari rakyat Papua, maka kami akan dengarkan dan menjalankan apa yang menjadi seruan dari rakyat Papua".
Beberapa pernyataan dari mahasiswa Papua lainnya dilokasi menyebutkan bahwa "Kami ingin Papua Merdeka dan Berdiri sendiri, bukan minta Pemilihan dibawah penindasan negara Kolonial Indonesia, jangan harap kami akan ikuti aktivitas perpolitikan Indonesia, dan memilih orang-orang yang nantinya akan menindas dan membunuh kami. Sampau kapanpun, selama masih ada orang Papua, maka suara untuk Merdeka itu akan tetap didengar oleh Indonesia". tegas beberapa mahasiswa Papua yang sedang berada di lapangan Volly, untuk menonton jalannya turnamen Volly antar Mahasiswa Papua se-DIY.
Dari pantauan kami dilapangan Volly tempat digelarnya turnmen Volly oleh mahasiswa Papua ini dan, dari hasil survey yang kami lakukan ke beberapa TPS yang terdapat banyak mahasiswa rantau, jelas terlihat bahwa banyak mahasiswa rantau di Yogyakarta yang tidak ingin terlibat dalam pemilihan legislatif Indonesia. 
Terlebih khusus untuk mayoritas mahasiswa Papua yang berada di Yogyakarta, lebih memilih tinggal di kost-kostan, kontrakan, asrama-asrama, dan ratusan mahasiswa Papua lainnya lebih memilih untuk menyaksikan turnamen Volly yang sedang berjalan.
Meskipun ada mahasiswa Papua lainnya di Yogyakarta yang ikut terlibat dalam pemilihan legislatif di Yogyakarta, namun dapat dipastikan bahwa jumlah mereka yang ikut itu hanyalah segelintir orang mahasiswa Papua yang pergi untuk kepentingan individual, dan itu tidak mewakili seluruh Mahasiswa Papua di Yogyakarta, sebab mayoritas mahasiswa Papua di Yogyakarta, lebih memilih untuk mengisi waktu libur mereka dengan refreshing.


Manokwari : Jalan Raya Utama Amban – Saggeng bertulisan Boikot pilpres 2014 dan Referendum Yes, bayak orang yang mengendari sepada motor di jalan raya itu sempat melihat- lihat  atau baca , kejadian itu terjadi sekitar  satu minggu lalu, sempat ditanya-tanya siapa yang tulis namun tidak ada yang mengaku dan siapa yang bertulis pada malam  itu,
Menurut  masyarakat setempat disitu bahawa tadi siang hingga sore ada mahasiswa yang bekerja di jalan raya itu pasti mereka yang tulis namun kami cari kebenaranya  ternya bukan mereka yang bekerja pada pagi – sore yang menulis namun mereka katakana tulisan itu sudah ada lalu mereka bekerja disekitar itu. (Melky.B)




Suara awal opm & agama on 18 Maret 2014 Manokwari, Pada hari Rabu Tanggal, 12 Maret 2014 lalu, Aksi pemalangan kampus atas penolakan KEDATANGAN PANGDAM   CENDRAWASI KE UNIPA,Tujuan  kunjungan  ini untuk memberikan kuliah UMUM bagi mahasiswa pada umumnya  khusus pada mahasiswa yang mendapatkanDana  Bidik Misi

Dalam kunjungan itu materi yang disiapkan untuk  kuliah umum adalah materi tentang Wawasan Kebangsaan atau kewarga negaraan, kegiatan maupun kedatangan Pangdam di tolak oleh mahasiswa UNIPA Dengan mebawa dua buah pamplet yang bergambar-gambar  pelanggaran Ham di papua yang bertulisan diatas, Kami Mahasiswa Unipa Menolak Kedatangan PANGDAM CENDERAWAI Dan Satu Bertulisan PANGDAM Pelaku GENOSIDA Di Papua. 
Dalam aksi pemalangan ini banyak tawaran dari Rektor UNIPA bersama BEM UNIPA untuk membuka pemalangan agar beliau bisa datang kegiatan yang dimaksud, namun mahasiswa berpirinsip Tolak , REKTOR UNIPA Suriel Mofu  mengaku dirinya yang mengundang PANGDAM untuk datang ke Unipa Oleh karena itu dirinya akan buat kejul untuk waktu lain, Maka mahasiswa duduk mempersatukan persepsi dan diteruskan ke Rektor melalui BEM Bahwa Kegiatan yang bersangkut paut TNI-POLRI  maupun kegiatan berbaut politik di dalam kampus UNIPA kami mahasiswa dengan tegas menolak. (elkis beanal).





suara kota awal opm dan agama - Pada hari  senin tanggal, 17  Maret 2014, MRP-PB Manokwari  membuka Forum Group Discussion (FGD) dalam rangka Evaluasi Undang- Undang Nomor 21 Tahun 2001, Sebagaimana telah di ubah dengan  Undang – Undang Nomor 35 Tahun 2008,Kegiatan di ikuti oleh pihak Pemerintah Daerah Manokwari Bersama Bem dan Mahasiswa UNIPA.   
Giatan ini berlangsung selama Dua Hari mulai dari hari Senin Kemarin Tanggal, 17 – 18 Maret 2014 dini Hari, Dalam kegiatan ini pembicara adalah Lukas Agustinus Surbay,Se Selaku Ketua Pansus,  Vitalis Yumte, Spd selaku Ketua MRP- PB sebagai sambutan dan Penjelasan Umum dari  Dr.Ir.Agus Sumule. Dalam kegiatan ini membentuk  empat kelompok besar Masing – masing membahas Pasal- pasal yang telah di atur oleh pembawa acara atau MC.
 Dalam diskusi ini pertayaan utama yang menjadi kunci dalam diskusi ada 3 Tiga macam yaitu: Apa yang diamanatkan dan mengapa?  Bagaimana pelaksanaannya selama ini (2001 - 2013)? Dan  Apa yang harus dilakukan kedepan?, Kegiatan dimulai pada jam 11.00 - 16.00 wp Kemarin  dan sedang dilanjutkan di ini hari selasa, 18 Maret 2014, Pada tempat yang sama, kata Hasil keputusan dibawa ke pusat Jakarta dan hasilnyapun akan didiskusikan Lagi. (Elkis beanal)





ARTIKEL & OPINI